antaRa bEraNi ataU neKaT

apa bedanya berani dengan nekat??
orang yang nekat itu tanpa perhitungan…
orang yang berani itu dengan perhitungan
orang yang berani itu menghitung…
kalau hitungannya untung, dia bertindak
kalau hitungannya rugi, apakah dia bertindak???
mungkin logikanya dia tidak bertindak…
namun ia sadar, sebagaim manusia hitungannya sering salah..
maka kalau pun hitungannya rugi..
dia tetap bertindak…

Advertisements

dosa, permakluman, hukuman

siang ini
membaca tulisan seorang kawan
dan aku ingat ibnul jauzy
***
“andai seseorang berma’shiat”, kata beliau

“disebab syahwat

aku masih punya harapan tinggi

bahwa Allah akan mengampuni

tapi dia yang sombong dan keras kepala

berdosa dan merasa diri baik-baik saja

aku takut..”

***

“sebab adam dan hawa

berma’shiat karena syahwatnya

dan Allah mengampuni mereka

sebab iblis berdosa dan durhaka

karena sombongnya

dan ia dilaknat sepanjang masa.”

***

aku lalu menangis..

membaca ayatNya terasa begitu miris

“maukah kukabarkan padamu tentang ia yang paling merugi ‘amalnya?”

andai boleh ya Allah, aku tak ingin tahu

karena aku takut, aku termasuk di situ

tapi Engkau telah berfirman,

“yaitu orang yang telah sesat upayanya dalam kehidupan dunia,

lalu dia menyangka bahwa dia telah berbuat sebaik-baiknya.”

***

semoga tiap langkahku ya Allah

tidak sedang menyuruk ke sana

karena aku tahu

dalam tiap dosaku

tersimpan bahaya

saat aku memakluminya, menganggapnya biasa

***

hukuman terbesar atas ma’shiat adalah kebas hati

perasaan tanpa salah, yang membuat tenang

untuk terus berkubang dalam dosa

maka berbahagialah dia yang masih punya gelisah

atas dosanya

setidaknya masih ada iman di sana, yang sedang terluka

***

-salim a. fillah ;..


Palestina, Cita, Hawa

“bang salim”, begitu adikku di jauh sana menyapa

di satu malam ketika Gaza membara

“sekiranya engkau ada peluang untuk masuk ke al aqsha

saat ini

apakah langsung akan kau ambil?”

***

hatiku disergap rindu

jiwaku diserbu malu

ya, adakah akan kuambil?

pertanyaan itu terlalu mengigit rasa

***

ya, aku memang mau

tapi betulkah aku mampu

mengalahkan keterikatan jiwa pada yang fana-fana

di sini, di indonesia

***

dan betulkah aku mampu

dengan iman yang sering karatan

dengan ‘ibadah yang kukejar kelabakan

dengan tubuh yang ringkih dan rumih

bukankah bagi saudaraku di Gaza

aku hanya akan jadi beban merepotkan?

***

-atau itu hanya alasan-alasan?-

-dan kepengecutan-

***

“jujur”, ia melanjutkan, memenggal lamunku

“saat ini aku melihat peluang itu hadir

tapi diselenggarakan lembaga yahudi”

***

ahh.. entah mengapa, sekarang jadi lebih mudah menjawabnya

-karena rasa takutku kini bertemu pintu untuk lari?-

de’, kataku, ingat kalimat ini dalam buku?

“setinggi apapun, cita tak boleh bergeser jadi hawa”

***

bersambung, insyallah

-Salim A. Fillah-