Palestina, Cita, Hawa

“bang salim”, begitu adikku di jauh sana menyapa

di satu malam ketika Gaza membara

“sekiranya engkau ada peluang untuk masuk ke al aqsha

saat ini

apakah langsung akan kau ambil?”

***

hatiku disergap rindu

jiwaku diserbu malu

ya, adakah akan kuambil?

pertanyaan itu terlalu mengigit rasa

***

ya, aku memang mau

tapi betulkah aku mampu

mengalahkan keterikatan jiwa pada yang fana-fana

di sini, di indonesia

***

dan betulkah aku mampu

dengan iman yang sering karatan

dengan ‘ibadah yang kukejar kelabakan

dengan tubuh yang ringkih dan rumih

bukankah bagi saudaraku di Gaza

aku hanya akan jadi beban merepotkan?

***

-atau itu hanya alasan-alasan?-

-dan kepengecutan-

***

“jujur”, ia melanjutkan, memenggal lamunku

“saat ini aku melihat peluang itu hadir

tapi diselenggarakan lembaga yahudi”

***

ahh.. entah mengapa, sekarang jadi lebih mudah menjawabnya

-karena rasa takutku kini bertemu pintu untuk lari?-

de’, kataku, ingat kalimat ini dalam buku?

“setinggi apapun, cita tak boleh bergeser jadi hawa”

***

bersambung, insyallah

-Salim A. Fillah-

Advertisements

Catatan Perjalanan Dakwahku di FARIS

Akhirnya sampai juga di akhir kepengurusan di UKM Fajrul Islam tercinta…amanahku pada saat itu di mulai sejak 3 tahun yang lalu. Pada saat itu masih ada PDF (Pengembangan Dakwah Fakultas) yang walaupun ga legal alias ga diakui kampus, namum tetap berada di bawah UKM Fajrul Islam. Dan katanya siy tu bikin jadi ashobiah fakultas geto. Saat itu aku diamanahi di kaderisasi PDFTI. Sebagai pemula dan ga ngerti-ngerti banget tentang kaderisasi aku Cuma bisa menunggu bola saat itu. Sampai di akhir-akhir kepengurusan periode itu, baru aku sadari kekeliruanku. Harusnya aku ga pasif, harusnya aku yang menjemput bola. Kalo ga ngerti ya tanya-lah..kan punya mulut. Kalo ngerasa dicuekin ya bilang-lah…”Ka, Mba…apa yang bisa ane bantu???” gitu harusnya. Mungkin karena usai amanah itu aku diamanahkan sebagai sie acara di kepanitiaan SWITER tahun itu, beuhh kerasa banget gejolaknya saat itu…sampe ada airmata.

Setelah amanah itu usai, sejak saat itu aku bertekad untuk lebih proaktif diamanah berikutnya..apa pun itu. Akhirnya tahun kedua kepengurusanku, aku diamanahi lagi di kaderisasi. Namun kali ini ga da lagi PDF. Continue reading