Catatan Perjalanan Dakwahku di FARIS

Akhirnya sampai juga di akhir kepengurusan di UKM Fajrul Islam tercinta…amanahku pada saat itu di mulai sejak 3 tahun yang lalu. Pada saat itu masih ada PDF (Pengembangan Dakwah Fakultas) yang walaupun ga legal alias ga diakui kampus, namum tetap berada di bawah UKM Fajrul Islam. Dan katanya siy tu bikin jadi ashobiah fakultas geto. Saat itu aku diamanahi di kaderisasi PDFTI. Sebagai pemula dan ga ngerti-ngerti banget tentang kaderisasi aku Cuma bisa menunggu bola saat itu. Sampai di akhir-akhir kepengurusan periode itu, baru aku sadari kekeliruanku. Harusnya aku ga pasif, harusnya aku yang menjemput bola. Kalo ga ngerti ya tanya-lah..kan punya mulut. Kalo ngerasa dicuekin ya bilang-lah…”Ka, Mba…apa yang bisa ane bantu???” gitu harusnya. Mungkin karena usai amanah itu aku diamanahkan sebagai sie acara di kepanitiaan SWITER tahun itu, beuhh kerasa banget gejolaknya saat itu…sampe ada airmata.

Setelah amanah itu usai, sejak saat itu aku bertekad untuk lebih proaktif diamanah berikutnya..apa pun itu. Akhirnya tahun kedua kepengurusanku, aku diamanahi lagi di kaderisasi. Namun kali ini ga da lagi PDF. Semua dah jadi satu. UKM Fajrul Islam. Departemen Kaderisasi pada saat itu membawahi 3 divisi: KSMI (Kajian Studi Mahasiswa Islam), Tim Mentoring, dan PSDM (Pengembangan Sumber Daya Muslim). Aku diamanahi di PSDM.

Sesuai janjiku, aku berusaha lebih proaktif di amanahku. And I did. Alhamdulillah juga….rekan-rekan seperjuangan di PSDM juga membuatku semakin bersemangat, meski sempat resuffle staf juga siy. Tapi kebersamaan kami sungguh membuatku semakin banyak belajar. Tentang dakwah, tentang karakter, tentang bakti kepada orang tua, tentang makna hadits Rasulullah yang berbunyi -“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling cinta mencintai, kasih mengasihi, dan saling bersimpati, adalah seperti tubuh; apabila salah satu anggota tubuh mengadu kesakitan, maka seluruh anggota tubuh ikut terjaga”- karena hampir kehilangan saudara seperjuangan untuk selamanya (namun Allah masih mengizinkannya berjuang bersama kami). Semua itu bisa aku pelajari dari mereka. Orang-orang yang subhanallah semangatnya. Persaudaraan kala itu terasa begitu indahnya. Dengan cobaan sana sini justru semakin mempererat tali ukhuwah kami. PSDM, dengan segudang proker yang harus dikerjakan. Ga jarang kami syuro hampir setiap hari. Kami ayuhkan langkah kaki kami. Berpikir keras demi bisa memberikan yang terbaik. Walaupun mungkin belum bisa dianggap yang terbaik. Cape?? Pasti!! Itu manusiawi…namun itu bukanlah cacat dalam dakwah kami. Namun bukan melulu soal proker yang dibicarakan. Tapi juga diskusi panjang mengenai bagaimana kemajuan kader kita, bagaimana agar kualitas kader kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. Yah itu dulu…PSDM adalah kenangan terindah selama kepengurusanku di FARIS. Aku sudah begitu mencintai pekerjaan dakwah ini. Segala pola pikirpun sudah terbentuk sebagai orang yang berkecimpung di kaderisasi. Aku terus menggali tentang ini.

Namun diakhir tahun kepengurusanku, aku begitu shock dengan amanah yang harus aku terima. Sang mas’ul telah memberiku bayangan sebelum aku benar-benar ditempatkan disitu. Tadinya aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Namun seiring dengan itu, setiap sesuatu yang tampak semakin membuatku yakin amanah itu akan diberikan padaku. Kukumpulkan keberanianku untuk menanyakan itu, itupun setelah aku berkonsultasi dengan banyak pihak dan juga murobiyahku tentu. Aku berusaha membujuk mas’ulku saat itu. Plissss…jangan aku!!!!! Dan mungkin episode itu juga yang membuatnya jadi ragu padaku. Yeeeahh…akhirnya amanah itu malah diberikan pada sahabatku…hehe (my lovely sister). Dan aku jadi jundinya deh. Walaupun sebenarnya bukan itu yang aku harapkan. Aku sudah terlanjur cinta dengan amanahku sebelumnya.

Tausiyah-tausiyah mengalir deras sederas airmataku di alat komunikasi sederhanaku. Sms-sms berdatangan berusaha menguatkan langkahku sebagai saudara seperjalanan. Namun keikhlasanku kadang pasang surut kala itu, diluar aku terlihat biasa aja namun di dalam hati ini..rapuh sekali. Sampai aku merasa ga dibutuhkan lagi sepertinya. Namun ada yang mengingatkanku saat itu, “apa kalau memutuskan lebih fokus di akademis dan mengabaikan FARIS akan membuatmu lulus lebih cepat??”..aku bilang “Bukan itu, bukannya sombong,,selama ini walaupun aku sering bolos (hehe..jangan ditiru ya) tapi prestasi akademikku masih di atas rata-rata. FARIS ga akan membuat prestasiku menurun, justru FARIS penyemangat buat aku. Karena ga da ceritanya aku pusing mikirin IPK jelek, kan memang sudah harus bagus. Jadi ga usah dipikirin. Namun kalo memang aku ga dibutuhkan, buat apa aku ada di sini??”. Saudaraku itu malah bilang “Loh qo sekarang jadi anti yang ngerasa kayak gitu?? Bukannya kemaren anti yang nasehatin ane jangan merasa seperti itu pas ane ngerasa ga dibutuhin???”…..hehe iya juga ya…mang ngomong tu gampang tapi pelaksanaannya susah. Kita boleh kecewa dengan manusia, tapi kita ga boleh kecewa dengan Yang Maha Tau, yang diputuskan Allah adalah yang terbaik. Sempat meminta maaf pada mas’ul-mas’ul dakwahku karena telah menjadi jundi yang bandel, telah mengecewakan dan susah diatur. Namun aku bersyukur ternyata mereka malah menyemangatiku walaupun aku tau, pasti diam-diam mereka kecewa padaku. Mereka malah bilang “Saudariku kami tidak kecewa dengan anti, kami paham semua ini perlu proses, sebagai contoh Abu Bakar as siddiq ra, beliau menginfaqkan seluruh hartanya untuk islam, semua ini melalui proses yang panjang. Saudariku belajarlah dan lalui proses itu untuk menjadi hamba yang memberikan yang terbaik buat Allah, bisa jadi hari esok cobaan Allah akan semakin berat, semua ini karena Allah mencintai kita”, truz “OK, boleh aja nyesel2-an tapi cukup 2 jam ke depan aja ya..insya Allah tarbiyah ini jalan kita untuk jadi dewasa dan matang. Bahkan ada orang yang bilang tarbiyah ini seni mmbentuk manusia. Lya kuat, Lya bisa dan Lya salah satu dari yang terbaik. Bismillah takbir!!!”.

Amanah yang baru membuatku harus terus bergulat dengan diriku, pikiran-pikiranku, hatiku, bakatku, keegoisanku, kecemburuanku dan keikhlasnku. Aku bergulat cukup lama. Hufff..entah mungkin karena cape dan ga bisa apa-apa lagi. Aku sesaat jadi masa bodoh. Ga banyak kegiatan juga di amanahku saat ini. Ga banyak syuro, ga banyak yang dibahas, karena mang prokernya juga cuma dikit dan ga menuntutku untuk banyak berpikir keras seperti sebelumnya. Hidup saat itu jadi terasa kendur…ga seru. Waktuku pun lebih lengang. Namun, disaat akhir-akhir kepengurusanku di amanah itu menuntut untuk banyak bergerak dan berpikir. Kerja kadang terasa begitu berat karena seperti kerja sendiri. Awalnya ngerasa semangat lagi, karena dah lama ga mikir geto. Dan acara itu pun akhirnya terselenggara. Terbilang sukses walau masih banyak kekurangan disana-sini. “SERPIHAN HATI”.

Dari amanah terakhirku di FARIS membuat wawasan dakwahku semakin berwarna-warni rasanya. Tadinya seolah aku hanya melihat dari satu warna. Warna kaderisasi. Namun ternyata ada warna lain yang juga indah dan ga kalah penting keberadaannya. Warna pencitraan, warna syiar, warna administrasi. Sungguh semua itu adalah penting. Ga da satu warna yang lebih penting dari pada warna yang lainnya. Semua memegang peran. Dan kalau ada yang hilang atau redup salah satunya, maka ga akan indah lagi. Aku jadi bersyukur, sungguh aku bersyukur. Mungkin inilah hikmah yang bisa aku ambil. Mungkin aku ga akan berpikir dan merasa seperti ini jika aku tetap diamanahkan di kaderisasi. Berpikir seperti itu mungkin sudah, namun merasakan langsung…beda rasanya hanya dengan berpikir. Mungkin orang-orang yang ga pernah tercelup di amanah lain selain kaderisasi harus merasakan seperti apa yang aku rasakan agar rasa egois itu bisa teredam. Agar bisa lebih seimbang.

Dan ga terasa…aku pun sudah harus meninggalkan amanah ini, amanah yang tadinya tidak aku sukai. Aku sering meminta maaf padanya, pada amanahku, minta maaf karena aku belum bisa mencintainya saat itu. Namun aku bersyukur sebelum kulepaskan, rasa cinta itu sudah tertanam dalam hati ini. Departemen PEMULIAAN PEREMPUAN….aku mencintaimu karena Allah.

Advertisements

6 thoughts on “Catatan Perjalanan Dakwahku di FARIS

  1. Subhanallah sungguh sangat berat ternyata perjalanan dakwah mba lya,banyak sekali rintangan yang menghadang namun itu smua bisa dilewati dengan banyak pengorbanan.
    Tetep berjuang ka, Da’wah ini ngga ada kata henti walaupun jasad ngga ada di Faris tapi hati harus tetep terkait dengan Faris,,,

  2. subhanallah..trnyata bru tw yg Lya rasain..
    Lya..sahabat dlm memulai dakwah di Faris..tmn kelas satu ku..:)
    jadi inget pas pertama kali qta satu amanah di PDFTI. Emg qta yg kurang aktif jmput bola..Tapi itu jd pelajaran u/ memotivasi qta jd lebih baik lg..:)
    Dan emg bner ukhuwah, pngalaman & perjalanan dakwah di Faris tak kan terlupa sepanjang hayat..
    smg Allah menghimpun hati-hati qta dalam cinta-Nya, berjumpa
    karena taat kepada-Nya, Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah,
    saling berjanji untuk menolong syariat-Nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s